Sharing Session II Agromodern BRMP Riau, Pengelolaan Bahan Organik Dukung Program PM-AAS
Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Riau menggelar Sharing Session II Agromodern secara virtual melalui Zoom Meeting pada Jumat (24/7/2026). Kegiatan yang mengangkat tema “Pengelolaan Bahan Organik sebagai Sumber Hara dan Amelioran Tanah Berbahan Baku In Situ guna Mendukung Program Penanaman Padi PM-AAS (Pertanian Modern Advanced Agriculture System)” ini diikuti Kepala BRMP Riau, pegawai BRMP Riau, penyuluh BPPSDMP wilayah kerja Provinsi Riau, Kabupaten/Kota di Provinsi Riau. Kegiatan sharing session ini menghadirkan Dr. Muhammad Giri Wibisono, SP., M.Si sebagai narasumber dengan dimoderatori Dr. Rizqi Sari Anggraini, SP., M.GFAB.
Dalam sambutannya, moderator menyampaikan bahwa Sharing Session menjadi salah satu upaya BRMP Riau untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam mendukung transformasi menuju pertanian modern. Pertanian modern tidak hanya mengandalkan penggunaan alat dan mesin pertanian, tetapi juga menekankan pemanfaatan sumber daya lokal secara efektif, efisien, dan berkelanjutan guna meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Pada sesi materi, Dr. M. Giri Wibisono menjelaskan pentingnya pengelolaan bahan organik berbasis sumber daya lokal (in situ) sebagai sumber hara dan pembenah tanah. Berbagai limbah organik seperti jerami padi, tongkol jagung, sabut kelapa, limbah rumah tangga, eceng gondok, hingga kotoran ternak dapat dimanfaatkan untuk mendukung kesuburan tanah. Selain itu, bahan seperti biochar, abu biomassa, dolomit, kapur, dan zeolit juga dapat digunakan sebagai amelioran untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Menurutnya, pemanfaatan bahan organik bukan untuk menggantikan pupuk anorganik sepenuhnya, melainkan sebagai pelengkap agar pemupukan menjadi lebih efisien dan berkelanjutan.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai masukan dari penyuluh pertanian dari sejumlah daerah. Peserta menyampaikan tantangan penerapan bahan organik di lapangan, mulai dari pola pikir petani yang masih menginginkan hasil instan, keterbatasan biaya pelatihan, hingga pemilihan metode pengomposan yang tepat. Narasumber menjelaskan bahwa pengomposan aerob lebih sesuai untuk jerami, sedangkan fermentasi anaerob lebih efektif untuk limbah organik basah. Peserta juga mengusulkan agar BPP dijadikan lokasi demonstrasi teknologi, serta mendorong kerja sama dengan perusahaan kelapa sawit dan PLTU untuk memanfaatkan limbah industri sebagai bahan amelioran tanah.
Melalui kegiatan ini, BRMP Riau menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kapasitas penyuluh melalui sharing session dan pelatihan lapangan. Penyuluh diharapkan mampu mengidentifikasi potensi bahan organik di wilayah masing-masing dan menerapkannya kepada petani. Selain itu, BRMP Riau akan menyusun materi teknis sederhana mengenai pembuatan kompos, pupuk organik cair (POC), dan biochar, serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan guna memperluas pemanfaatan bahan organik dalam mendukung keberhasilan Program PM-AAS dan mewujudkan pertanian yang modern, produktif, dan berkelanjutan.